KEGELISAHAN ARJUNA 15 JULI 2012

 

BERHENTILAH MENGANGGAP TUBUH SEBAGAI DIRIMU MAKA ENGKAU AKAN MENGETAHUI DIRIMU YANG SEJATI

Krishna menasehati Arjuna, “Arjuna, tinggalkanlah sifat pengecut itu! Bangkitkan sifat kepahlawananmu dan bertempurlah! Kelemahan hati yang timbul dalam dirimu tidak pantas bagi seorang pahlawan besar!”


Apakah penyebab kemurungan Arjuna? Penyebabnya ialah ketidaktahuan. Karena ketidaktahuan ia menyamakan diri dengan tubuh, dan karena menyamakan diri dengan tubuh, ia menjadi bingung dan bimbang, ia kehilangan tekad dan keberanian, dan tidak mampu menyelesaikan apa-apa. Krishna berkata kepada Arjuna, “Selama sifat pengecut ada pada dirimu, tugas sekecil apapun tidak akan dapat kau selesaikan. Engkau akan tetap dibayangi kesedihan. Tahukah engkau apa yang menyebabkan kesedihan ini? Tidak lain ialah keterikatanmu; engkau dimabukkan oleh rasa bangsaku, kerabatku, dan teman-temanku. Sikap memiliki ini bersumber dari ketidaktahuan. Keterikatan dan ketergila-gilaan ini akan selalu membuat engkau bimbang dan menjebloskan engkau ke jurang kesedihan. Itulah sebenarnya musuh-musuh yang harus engkau taklukkan.Selama engkau diliputi oleh sikap memiliki ini, hanya memikirkan dirimu sendiri, keluargamu, bangsamu, dan harta bendamu, cepat atau lambat pasti engkau akan terlempar ke lembah kesedihan. Engkau harus beralih dari sikap aku dan punyaku ke tingkat yang lebih tinggi dengan senantiasa berpegang pada sikap kita dan punya kita. Dari sikap mementingkan diri sendiri engkau harus berangsur-angsur maju ke sifat tanpa pamrih, dari keterikatan menuju kebebasan.Sebelum perang Mahabharata, Arjuna telah terlibat dalam beberapa peperangan, tetapi belum pernah ia dirisaukan oleh kesedihan dan keterikatan. Kini Arjuna sangat prihatin karena menyadari musuh yang harus dihadapi adalah kakeknya sendiri, sanak keluarganya sendiri, dan gurunya sendiri. Rasa memiliki inilah penyebab kesedihannya. Ia menjadi korban kemabukan; rasa punyaku menjalar dalam hatinya. Karena sikap ini tumbuh, akibatnya yaitu dukacita ikut menjadi-jadi. Sebelumnya, ketika Krishna pergi ke keraton Kurawa melaksanakan misi perdamaiannya, Arjuna sangat bernafsu ingin segera berperang. Ia mencoba meyakinkan Krishna bahwa Misi-Nya akan sia-sia, pasti menemui kegagalan.

Pada waktu Arjuna berkata kepada Krishna, “Krishna, perjuangan untuk menuntut kebenaran tidak bisa diselesaikan dengan jalan damai. Kurawa tidak akan pernah menyetujui syarat-syarat perdamaian Kakanda. Kebencian serta keserakahan mereka tidak mungkin dapat diredakan. Buat apa Kakanda membuang-buang waktu? Pandawa dan Kurawa betul-betul bertolak belakang; bagaimana mungkin mereka bisa bekerja sama? Barangkali mereka bisa rukun di surga atau di neraka, tetapi di atas bumi ini tidak mungkin terjadi hal seperti itu. Misi Kakanda akan menemui kegagalan.” Arjuna berkata demikian, kepahlawanannya meluap-luap dan tekadnya membaja karena pada waktu ia tidak melihat kakek, guru, kerabat keluarga, dan teman-temannya yang akan menghadapinya. Sebelum wawasan rasa memiliki ini berkembang dalam hatinya sehari menjelang perang Mahabharata, tampaknya Arjuna punya pandangan yang sangat luas. Tetapi sekarang setelah berada dalam medan pertempuran untuk berperang mempertahankan dharma yang telah lama ia dambakan, mata Arjuna menjadi pudar, hatinya berat, dan pikirannya kacau. Ketika ia menyaksikan sanak saudara dan beberapa temannya berkumpul di pihak lain, siap bertempur melawannya, ia merasa pusing. Ia berkata, “Krishna, aku tidak mau bertempur!”

Bila engkau berada dalam medan pertempuran, apakah tepat waktunya untuk memandang musuhmu sebagai keluarga? Ketika Krishna mendengar kata-kata Arjuna, Beliau marah sekali, Beliau berkata kepada Arjuna, “Ini pengecut. Tidak pantas engkau bersikap demikian! Seorang yang gagah berani seperti engkau, yang selalu melangkah dengan bangga dan tegap seperti pahlawan sejati, sepertinya sekarang menderita rasa takut-takut. Seorang yang menjadi penakut semacam itu tidak bisa menjadi murid Yogeswara, Master dari segala Master Yoga. Aku malu menerima engkau sebagai murid-Ku. Perang sudah hampir mulai. Persiapan tahap terakhir untuk perang ini telah berlangsung selama tiga bulan dan rencana pertempuran telah dibuat. Andaikata sejak semula engkau memperlihatkan keraguan ini, pasti Aku tidak mau menjadi kusir keretamu. Pada tahap terakhir ini engkau ragu-ragu, sesudah engkau menulis surat meminta kawan dan keluarga membantu engkau, setelah mereka menyatakan setuju dan kini mereka telah berkumpul di sini, engkau meletakkan senjatamu dan menyerah secara memalukan. Begitukah cara bertindak seorang pahlawan? Engkau merusak semangat ksatria sejati, yang demi tugasnya telah bersumpah wajib mempertahankan kehormatan dan kebajikan. Jika engkau terus menunjukkan sikap pengecut, penakut dan lemah, generasi mendatang akan menertawakan sifatmu. Engkau menyandang nama Arjuna, namun tidak bertindak sesuai dengan makna nama itu!”

Apakah arti Arjuna? Artinya keramat dan suci. Jika orang yang begitu mulia seperti Arjuna meletakkan senjatanya dan bertekad tidak mau bertempur mempertahankan dharma, hal itu hanya disebabkan oleh ketidaktahuan. Narayana, Tuhan, karena mengetahui keadaan penyakit ini, berketetapan akan membasminya. Pada permulaan Gita, seharusnya Krishna sudah dapat mengajarkan yoga pengabdian dan yoga kewajiban atau kerja tanpa pamrih, tetapi Krishna sengaja tidak melaksanakan hal itu. Ia baru mulai berbicara mengenai hal itu dalam bab kedua. Bab pertama seluruhnya diperuntukkan bagi kesedihan dan keprihatinan Arjuna. Sama sekali Krishna tidak mengganggu keadaan itu. Dalam bab kedua, dari bait kesebelas dan selanjutnya Krishna memulai ajaran-Nya. Sebelumnya Krishna hanya mendengarkan dengan penuh kesabaran. Kemudian beliau bertanya, “Arjuna engkau sudah selesai? Apakah engkau telah menumpahkan seluruh isi hatimu?”

Sama halnya dengan murid-murid yang pikirannya ringan setelah mengikuti ujian, Arjuna pun merasa lega setelelah mengemukakan seluruh perasaannya. Lalu Krishna berkata, “Penyakit kebimbangan yang mengerikan ini telah berjangkit dalam dirimu. Aku tahu cara mengobati rasa bimbang ini. Akan Kusembuhkan penyakitmu. Ketidaktahuanlah yang menyebabkan kebingungan ini; ketidaktahuan itu membuat engkau menjadi bimbang.” Kemudian Krishna mulai mengajarkan Sangkhya Yoga kepada Arjuna. Sangkhya Yoga mengajarkan kemampuan membedakan atma dan anatma, antara diri sejati dan diri khayal, antara yang kekal dan yang berubah.

Bila seseorang diliputi kesedihan yang mendalam dan menderita kekaburan batin, apa yang harus dilakukan untuk melepaskannya dari belenggu khayalan? Bila seorang pasien berada dalam keadaan bahaya, yang pertama harus dilakukan oleh dokter ialah berusaha menyelamatkan pasien itu. Sesudah itu dokter bisa memberikan berbagai pengobatan. Umpama pasien berada dalam keadaan kritis hampir mati, pengobatan apapun yang diberikan akan sia-sia jika keadaannya yang gawat tidak ditanggulangi lebih dulu. Setelah ia bebas dari maut, barulah berbagai prosedur pengobatan dapat dilakukan. Misalnya bila seseorang tenggelam di sungai, engkau harus mengangkatnya lebih dulu, membawanya ke pinggir, dan memberikan pernapasan buatan; kemudian engkau dapat mulai memberikan perawatan berikutnya untuk mengembalikan sirkulasi darah dan membantu memulihkan keadaannya. Tentunya engkau tidak akan mulai memberikan berbagai perawatan selama ia masih berada di dalam air, tenggelam.

Krishna memberi Arjuna semangat dan keberanian untuk menyelamatkannya agar tidak tenggelam dalam kesedihan dan keputus-asaan. Pertolongan pertama yang diberikan Beliau adalah memberikan pelajaran mengenai diri sejati dan yang bukan diri sejati, dan perbedaan di antara keduanya. Beliau berkata, “Arjuna, selama engkau dikuasai oleh ketakutan dan kecemasan, engkau tidak akan mampu mencapai apa-apa. Bangkitkanlah keberanianmu! Ketahuilah bahwa engkau adalah atma, bukan badan ini; maka engkau tidak akan mengenal rasa takut. Aku dapat menolong engkau mencapai berbagai hal yang besar dan agung; namun hanya bila engkau mendasari tindakanmu dengan pengetahuan sejati dan tetap gagah berani.” Sampai di sini Krishna tersenyum, tetapi Arjuna menangis.

Yang selalu tersenyum ialah Narayana ‘Tuhan’. Yang menangis adalah nara ‘manusia’. Orang yang menangis itu pandir, bodoh. Krishna adalah atma. Arjuna adalah anatma; yang satu pengejawantahan pengetahuan dan yang lain diliputi kebodohan. Krishna berkata, “Aku akan menjelaskan kepadamu sesuatu yang amat penting. Sekarang ini tingkah laku kita berbeda. Aku tersenyum, sedangkan engkau menangis. Tetapi kita berdua bisa sama; apakah Aku menjadi seperti engkau atau engkau menjadi seperti Aku. Jika Aku menjadi seperti engkau maka Aku akan menjadi penakut; tetapi ini sama sekali tidak mungkin. Kelemahan semacam itu tidak mungkin memasuki diri-Ku. Sebaliknya jika engkau menjadi seperti Aku, maka engkau harus mengikuti Aku dan melakukan apa yang Aku katakan.” Sampai di sini Arjuna menjawab, “Swami, saya akan benar-benar melakukan apa yang Swami katakan. Saya akan mematuhi segala perintah Swami.” Setelah memberi Arjuna semangat dan kekuatan batin, Krishna berhasil memulihkan tekadnya yang membaja; sejak saat itu Arjuna siap tempur mengikuti petunjuk yang diberikan oleh Tuhan.

Dalam Sangkhya Yoga yang pertama dipaparkan adalah kebenaran tertentu mengenai jasmani dan rohani. Krishna berkata, “Arjuna, engkau mengira bahwa orang-orang ini kaum kerabatmu dan teman-temanmu. Tetapi siapa kerabat itu dan siapa pula teman itu? Siapa badan dan siapa penghuninya? Semua badan tidak ubahnya dengan gelembung-gelembung udara. Semua sanak saudara dan teman-temanmu tidak hanya ada sekarang ini, tetapi mereka sudah ada pada kelahiran-kelahiran sebelumnya. Engkaupun sudah ada sebelumnya, dan Aku pun sudah ada pula. Badan, pikiran, dan budi, semua itu alat belaka. Tidak ubahnya dengan pakaian yang engkau kenakan; semua itu hanya barang yang engkau ganti sewaktu-waktu. Mengapa mengikatkan diri kepada semua itu, tergila-gila sehingga engkau menanggung kesedihan dan rasa duka yang tidak perlu? Lakukanlah kewajibanmu. Segala kehormatan yang pantas bagimu sebagai pangeran akan engkau peroleh; tetapi di medan laga tidak ada tempat bagi perasaan kecut dan hati yang lemah. Bertempur untuk mempertahankan dharma dan kelemahan yang ada dalam dirimu bertentangan satu sama lain. Sifat pengecut dalam medan pertempuran bukan sifat seorang pahlawan besar. Cita-citamu benar dan engkau datang untuk bertempur. Karena itu bangkit dan bertempurlah!” Dengan kata-kata ini Krishna melenyapkan kemurungan Arjuna dan mengembalikan keberanian serta semangat juangnya.

Dritharashtra, ayah yang buta dari seratus Kurawa bersaudara, bertanya kepada Sanjaya, yang melaporkan seluruh kejadian kepadanya, “Sanjaya, apa yang dikerjakan anak-anakku dan apa yang dikerjakan Pandawa?” Pada saat itu Sanjaya menjelaskan kepada raja segala kejadian di medan perang. Lapangan tempat pertempuran dinamakan Dharmaksherta, karena secara historis tempat itu merupakan tempat keramat untuk mengadakan kurban dan hal-hal suci lainnya. Sekaligus, secara historis, tempat itu juga menjadi arena bermain bagi keturunan Kuru yang jahat, yaitu keluarga dinasti Kurawa; maka tempat itu disebut juga Kurukshetra. Pada waktu lahir tubuh masih suci tanpa noda; ia belum menjadi korban keenam musuh manusia yaitu nafsu, amarah, ketamakan, kemabukan, kecongkakan, dan kedengkian. Bayi yang baru lahir selalu bahagia, ia menangis hanya jika merasa lapar. Siapapun yang memandangnya, apakah ia seorang pencuri atau seorang raja, sang bayi gembira; ia tersenyum dan tertawa kalau ada orang yang mendekati, apakah orang itu mau mencium atau mencubitnya. Karena anak kecil itu suci, badannya dapat dinamakan dharmakshetra. Badan yang tidak terpengaruh oleh guna ‘sifat-sifat buruk’ disebut dharmakshetra.

Selama pertumbuhannya, badan terus menerus mengumpulkan berbagai macam sifat buruk yaitu kedengkian, kebencian, keterikatan, dan sebagainya. Bila semua sifat ini berkembang dalam badan maka ia menjadi kurukshetra. Karena itu, badan yang sama dapat menjadi dharmakshetra dan dapat pula dinamakan kurukshetra. Baik dan buruk keduanya terkandung dalam hatimu. Rajas dan tamas berhubungan dengan rasa punyaku, sifat pemilikan. Kata Pandawa berarti kesucian dan sifat sattvik. Untuk menggambarkan sifat putih dan suci, kata yang kita pakai ialah pandu. Putra-putra Pandu suci, dan makna perang antara Pandawa dan Kurawa ialah perang batin dalam diri setiap individu, perang antara baik dan buruk, antara yang suci dan yang kotor. Perang antara Pandawa dan Kurawa tidak berlangsung lama, tetapi perang antara kekuatan baik dan kekuatan jahat berjalan terus selama hidupmu; tidak ada akhirnya. Peperangan ini berlangsung di medan dharma.

Bila memasuki padang Dharmakshetra harus terjadi perubahan sifat pada dirimu; itulah makna medan pertempuran ini. Ketika Dritharashtra, ayah seratus Kurawa bersaudara, bertanya kepada Sanjaya, “Apa yang dikerjakan anak-anakku?” Dalam batinnya ia menginginkan bahwa kalau anak-anaknya terjun ke medan dharma, akan terjadi perubahan yang mendalam pada diri mereka. Ia tahu kalau mereka itu jahat, namun setelah memasuki padang yang keramat itu mungkin terjadi perubahan pada hati nurani mereka. Bila seseorang memasuki medan perang Dharmakshetra, medan itu memungkinkan perubahan mental. Dritharashtra dan Kurawa melambangkan orang-orang yang menganggap barang yang bukan milik mereka sebagai miliknya. Mereka melambangkan sifat ingin memiliki. Walaupun ia bukan badan, ia menganggap badan itu dirinya yang sesungguhnya. Ia bukan indera, tetapi dengan bangga ia merasa bahwa ia adalah indera. Siapa saja yang menganggap suatu kerajaan yang bukan miliknya sebagai miliknya, ia adalah Dritharashtra. Jika engkau mengamati semua orang keturunan Dritharashtra yang mempunyai sikap ingin memiliki, engkau akan melihat bahwa mereka semua menyamakan diri dengan tubuh dan indera.

Mungkin engkau bertanya-tanya mengapa Gita diajarkan kepada Arjuna. Diantara Pandawa, beberapa saudaranya yang lain seperti Dharmaja misalnya, dianggap lebih memenuhi syarat dalam bidang kerohanian daripada Arjuna. Mengapa Gita yang keramat itu tidak diajarkan kepada Dharmaja yang tersohor dengan kekuatan moralnya? Atau jika engkau mempertimbangkan kekuatan fisik, maka Bhima yang paling perkasa diantara lima bersaudara itu, pastilah memenuhi syarat untuk mendapat pelajaran itu. Krishna bisa mengajarkan Gita kepada Bhima, tetapi Ia tidak melakukannya. Mengapa tidak? Mengapa hanya diberikan kepada Arjuna? Engkau harus mengerti maknanya dalam hal ini. Dharmaraja adalah perwujudan dharma, tetapi ia tidak mempunyai wawasan ke masa depan; ia tidak memikirkan akibat tindakannya. Yang ia miliki pandangan ke belakang, bukan pandangan ke depan. Bhima misalnya, tentunya ia sangat perkasa, namun ia tidak begitu cerdik. Ia mampu mencabut pohon, tetapi kurang kemampuan menganalisis. Sebaliknya, Arjuna punya pandangan ke depan. Umpamanya Arjuna berkata kepada Krishna, “Lebih baik aku mati daripada bertempur melawan orang-orang ini, sebab nanti ini merupakan penderitaan yang berat, meskipun kita menang perang.

Bertentangan dengan penderitaan batin Arjuna karena memikirkan segala kesengsaraan yang akan diakibatkan oleh perang ini, Dharmaraja siap maju bertempur, walaupun nantinya seusai perang ia sangat prihatin dengan pembunuhan massal yang telah terjadi. Ingatlah permainan dadu yang sangat terkenal itu; setelah Dharmaraja kehilangan segala-galanya, termasuk kekayaannya, kerajaannya, dan bahkan istrinya, ia sangat menyesali apa yang telah terjadi. Bila seseorang yang tidak timbang menimbang dan tidak mempunyai pandangan ke depan harus mengambil keputusan dalam keadaan gawat, ia senantiasa menyesali tindakannya dikemudian hari. Begitu juga sifat Raja Dasaratha, ayah Rama. Dasaratha pun kurang pandangan ke depan dan kurang pertimbangan.

Dasaratha ikut dalam peperangan antara pada dewa dan setan, disertai oleh ratu mudanya, Kaikeyi. Kaikeyi adalah putri dari ratu Kashmir; ia sangat pandai dalam ilmu perang. Sebenarnya Kaikeyilah yang mengajar Rama ilmu panah dan teknik perang. Ketika Dasaratha sedang bertempur dalam peperangan, salah satu roda keretanya lepas. Kaikeyi menggunakan jarinya untuk menahan agar roda tidak terpisah dari poros kereta. Dengan demikian ia menyelamatkan jiwa Dasaratha. Setelah mencapai kemenangan, Raja Dasaratha melihat bahwa tangan Kaikeyi mengeluarkan darah banyak sekali. Melihat keadaannya yang menyedihkan itu, Dasaratha diliputi oleh rasa cinta yang meluap-luap dan begitu bangga dengan keberanian serta pengorbanannya sehingga ia berkata, “Kaikeyi, engkau boleh minta dua hadiah, apa saja yang engkau inginkan, dan aku akan berusaha sekuat tenaga untuk memenuhinya.” Ia tidak menentukan hadiah apa yang boleh diminta istrinya. Ia menjanjikan hadiah itu tanpa memikirkan akibatnya. Kini Kaikeyi menagih hadiah itu pada saat yang sangat tepat baginya. Ketika tiba saatnya Dasaratha menyerahkan kerajaan kepada Rama, Kaikeyi minta agar Rama dibuang ke hutan, dan agar anaknya, Bharata, dinobatkan menjadi raja. Maka Dasaratha sangat menyesal karena telah menjanjikan hadiah itu tanpa syarat apapun; tetapi sudah amat terlambat untuk menariknya kembali. Kesedihannya atas hal itu mengakibatkan kematiannya.

Kita tahu bahwa Krishna sangat sayang kepada Arjuna, tetapi itulah alasannya sehingga Beliau mengajarkan Gita kepada Arjuna, dan bukan kepada saudaranya yang lain? Tidak. Krishna mempertimbangkan semua akibatnya, segala kaitannya, dan menganggap hanya Arjunalah yang memenuhi syarat menerima ajaran Gita. Arjuna telah memikirkan lebih dulu apa yang akan terjadi sesudah perang dan karena itu ia menyatakan tidak mau bertempur, karena akibatnya sangat buruk. Ia tidak menyesal setelah perang usai, tetapi sebelumnya. Sikap menyesal sebelum bertindak, bukan sesudahnya, hanya dapat ditemukan dalam hati yang suci. Arjuna benar-benar memiliki hati yang murni dan suci. Krishna dan Arjuna tidak terpisahkan selama 75 tahun, karena Arjuna merupakan perwujudan kemurnian dan kesucian. Meskipun mereka hidup bersama selama 75 tahun, belum pernah dalam 75 tahun itu Krishna mengajarkan Gita kepada Arjuna. Mengapa demikian? Krishna tidak mengajarkan Gita selama masa itu karena Arjuna memperlakukan Krishna sebagai ipar dan kawan akrabnya. Selama masa itu Arjuna hidup dalam kesadaran badan.

Pada saat Arjuna pasrah dan menempatkan diri sebagai murid, maka Krishna menjadi gurunya dan Arjuna menjadi murid Krishna. Hanya setelah penyerahan diri di pihak Arjuna, Krishna mengajarkan Gita kepadanya. Ini berarti bahwa jika engkau benar-benar ingin memperoleh pengetahuan spiritual dari orang lain, engkau harus menghubungkan diri dan orang itu sebagai murid dan guru, baru kemudian pengalihan pengetahuan itu dapat berjalan lancar. Ada seorang guru besar bernama Uddalaka. Pada masa itu tidak ada guru yang lebih hebat daripadanya. Tetapi ia mengirim anaknya ke guru lain untuk mempelajari berbagai kitab suci. Ayahnya sendiri tidak bisa mengajar anaknya. Ia berbuat demikian karena ia menganggap dirinya sebagai ayah, dan dalam hubungan sebagai ayah dengan putranya, anak yang bernama Swetaketu itu tidak dapat diberi pelajaran sebagaimana mestinya mengenai pengetahuan yang tertinggi. Keadaannya sama dengan Krishna dan Arjuna; selama hubungan sebagai ipar berlangsung diantara mereka, Arjuna tidak dapat menerima pengetahuan dari Krishna. Tetapi bila perasaan sebagai ipar tidak ada lagi dan perasaan berada di hadapan Paramatma ‘Tuhan Yang Mahakuasa’ menjiwai Arjuna, maka Arjuna akan dapat menerima pelajaran dari Krishna.

Hanya setelah Arjuna menyerahkan dirinya sepenuhnya dan merasakan bahwa Krishna adalah perwujudan Tuhan, Krishna mulai mengajarnya. Arjuna berkata kepada Krishna,

“Tvameva maataa cha pitaa tvameva
Tvameva bandhuscha sakhaa tvameva
Tvameva vidyaa dravinam tvameva
Tvameva sarvam mama devadeva”

Artinya,

‘Engkau ibuku, Engkau Ayahku
Engkau kerabat yang terdekat, Engkau kawanku terdekat
Engkau kebijaksanaanku, Engkau hartaku
Engkau segala-galanya bagiku
Engkau Tuhanku, Tuhanku satu-satunya’

Dengan ucapan ini ia menyerahkan dirinya sepenuhnya, dan saat itulah Krishna menerimanya sebagai murid. Lalu Krishna berkata, “Lakukan pekerjaan-Ku. Kerjakan segala sesuatunya bagi-Ku dan Aku akan melindungi engkau.” Dalam Sangkhya Yoga Krishna menjelaskan cara yang perlu untuk membuat Arjuna menyerah sepenuh hati kepada kehendak-Nya. Hal paling penting yang dilakukan Krishna adalah membebaskan Arjuna dari kesadaran badan. Selama kesadaran badan bercokol. jalan kebhaktian, atau jalan penyelidikan batin, engkau tidak akan mampu melaksanakan disiplin yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Kesadaran badan dan keterikatan yang ditimbulkannya akan tetap mencemari hatimu. Tanpa membersihkan hatimu dari sampah itu, tidak mungkin mengisinya dengan perasaan yang suci. Kalau sebuah gelas penuh dengan air, bagaimana engkau akan mengisinya dengan susu? Engkau harus membuang airnya terlebih dahulu. Krishna berkata, “Arjuna, engkau diliputi oleh kesadaran badan. Pertama engkau harus melepaskan diri sama sekali dari kesadaran tubuh ini. Barulah Aku dapat mengisi hatimu dengan gagasan yang suci.”

Sangkhya Yoga berkaitan dengan usaha Krishna untuk membebaskan Arjuna dari keterikatannya, kebingungannya, dan kesedihan serta penderitaan yang diakibatkan oleh hal itu. Setelah kesadaran badan ini lenyap, Krishna siap memberikan ajaran tertinggi tentang kesadaran atma kepada Arjuna. Untuk membangkitkan Arjuna dari tidur ketidaktahuannya, Krishna harus menggunakan banyak argumentasi. Beliau berkata, “Engkau pernah membinasakan seluruh hutan tanpa ragu. Juga pada waktu melindungi ternak sapi, engkau tidak berpikir panjang dan menggempur sanak saudara serta guru itu juga. Banyak alasan kesedihanmu, tetapi yang mendasar adalah ketidaktahuanmu. Karena engkau tidak sadar akan sifatmu yang sejati, engkau diliputi kedukaan. Kini engkau berteriak menyerukan Tuhan dan dharma. Saat engkau berseru kepada Tuhan, itulah yoga. Bila engkau berseru memanggil-Ku, Aku akan melindungimu dan memberikan segala yang engkau butuhkan.”

“Engkau menangis karena berbagai hal, namun apakah engkau menitikkan air mata bila terjadi kemerosotan dharma? Untuk menghentikan kemerosotan dharma, untuk berjuang memulihkan dharma, engkau harus memiliki keberanian.” Krishna berkata kepada Arjuna, “engkau tidak boleh memupuk sifat lemah apa pun. Hanya setelah engkau membuang penyebab kelemahan itu, kekuatan suci (Tuhan) akan dapat masuk dan bersemayam di hatimu. Jika engkau tidak mempunyai keberanian, biri-biri pun akan membuat kau takut, apa lagi orang jahat. Engkau harus mempunyai kemampuan menghadapi segala keadaan. Jika engkau lari ketakutan, kera pun akan menyerang engkau. Setiap orang tahu jika engkau memegang tongkat dan berdiri tegap, kera tidak akan berani menyerangmu. Tetapi jangan memperlihatkan punggung; melainkan tunjukkan wajahmu. Dengan demikian engkau akan mampu berbuat sesuatu.”

Vivekananda juga mengatakan hal seperti itu, “Jangan takut!” nasehatnya. “Keberanian adalah suatu alat untuk mencapai keberhasilan dalam hal apa saja.” Dewasa ini orang perlu lebih berani dan mempunyai tekad yang lebih kuat, tetapi mereka tidak boleh bersikap berani yang membabi buta dan bodoh. Keberanian harus disertai pertimbangan; maka usahamu pasti berhasil.

  http://www.ssg-kupang.hostoi.com/IntisariBhagawadGita/BhagawadGita15.html

Posted on 15 Juli 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: